Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Pengawas Satuan Pendidikan adalah mampu melakukan penelitian. Hal ini karena pekerjaan pengawas adalah sebuah profesi yang menuntut peningkatan pengetahuan dan keterampilan terus menerus sejalan dengan perkembangan pendidikan di lapangan.

Setiap bidang pekerjaan selalu dihadapkan pada permasalahan yang selalu berkembang, baik berupa fenomena yang mengundang tanda tanya, maupun   kesenjangan   antara   yang   diharapkan   dengan   kenyataan. Permasalahan  tersebut  menuntut  jawaban  dan  solusi  yang  dapat dipertanggung jawabkan.

Kedudukan pengawas sebagai pembina para guru dan kepala sekolah,
mengharuskan dia memiliki kesiapan memberikan solusi bagi permasalahan
yang mereka hadapi. Ia dapat saja mengandalkan pengalaman, baik dirinya
sendiri maupun orang lain, mengambil teori dari buku-buku, atau bahkan
mengandalkan intuisi. Hal ini tentu tidak selamanya memuaskan, karena yang
dituntut darinya adalah professional judgement yang dapat dijadikan acuan.

Penelitian   merupakan   suatu   bentuk   kegiatan  ilmiah   untuk mendapatkan  pengetahuan  atau  kebenaran.  Ada  dua  teori  kebenaran pengetahuan,  yaitu  teori  koherensi  dan  korespondensi.  Teori  koherensi beranggapan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila sesuai dan tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Aturan yang dipakai adalah logika berpikir atau berpikir logis. Sementara itu teori korenspondensi
berasumsi bahwa sebuah pernyataan dipandang benar apabila sesuai dengan
kenyataan (fakta atau realita). Untuk menemukan kebenaran yang logis dan
didukung oleh fakta, maka harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Inilah
hakikat penelitian sebagai kegiatan ilmiah atau sebagai proses the acquisition
of knowledge.

Dalam melaksanakan penelitian tentu harus dimulai dengan menyusun
proposal. Selain berfungsi sebagai realisasi atau penuangan gagasan agar
dapat dipahami oleh orang lain, proposal juga menjadi acuan dan arah  dalam kegiatan penelitian. Rasionalitas, bobot masalah dan kemanfaatan sebuah penelitian dapat ditemukan pada proposal. Oleh karena itu kemampuan menyusun proposal sangat penting dimiliki oleh pengawas.

A. Pengertian dan Tujuan Proposal

Penyusunan proposal atau usulan penelitian merupakan langkah awal
yang harus dilakukan peneliti sebelum memulai kegiatan penelitian. Proposal
penelitian dapat membantu memberi arah pada peneliti agar mampu menekan kesalahan yang mungkin terjadi selama proses penelitian berlangsung. Jika proposal penelitian sudah disusun secara sistematis, lengkap dan tepat, akan mempercepat  pelaksanaan,  proses  serta  penyusunan  laporan  penelitian.
Proposal mempunyai arti sangat penting bagi setiap peneliti dalam usaha
mempercepat, meningkatkan serta menjaga kualitas hasil penelitian. Proposal
penelitian  harus  dibuat  sistematis  dan  logis  sehingga  dapat  dijadikan
pedoman yang mudah diikuti.

Proposal penelitian adalah gambaran secara rinci tentang proses yang
akan  dilakukan  oleh  peneliti  untuk  dapat  memecahkan  permasalahan
penelitian. Secara umum, poposal penelitian merupakan pedoman yang berisi
langkah-langkah yang akan diikuti peneliti untuk melakukan penelitiannya.
Dalam menyusun proposal perlu diantisipasi munculnya berbagai sumber
yang  dapat  bermanfaat  sehingga  dapat  digunakan  dalam  mendukung
penelitian atau faktor-faktor yang mungkin menghambat kegiatan penelitian.
Tujuan  umum  proposal  penelitian  adalah  memberitahukan  secara  jelas
tentang tujuan penelitian, siapa yang hendak ditemui, serta apa yang akan
dilakukan atau dicari di lokasi penelitian. Proposal penelitian dibuat peneliti
sebelum melakukan kerja lapangan.

Proposal atau sering disebut juga sebagai usulan penelitian adalah suatu  pernyataan  tertulis  mengenai  rencana  atau  rancangan  kegiatan penelitian  secara  keseluruhan. Proposal  penelitian  berkaitan  denganpernyataan atas urgensi dari suatu penelitian. Membuat proposal penelitian bisa jadi merupakan langkah yang paling sulit namun menyenangkan di dalam tahapan proses penelitian. Pada tahap ini, seluruh kegiatan penelitian disintesiskan ke dalam suatu desain yang spesifik. Dalam proposal, peneliti mempraktekan bahwa mereka telah mengetahui apa yang akan mereka cari,bagaimana cara mencari dan mengenalinya, serta menjelaskan mengapa penelitian itu memiliki nilai kegunaan sehingga perlu untuk dilakukan.

B. Isi Proposal

Di  muka  telah  dijeaskan  bahwa  penelitian  adalah  proses  yang sistematis.  Maknanya  bahwa  penelitian  dilakukan  dengan  urutan  dan prosedur  tertentu  dan  para  peneliti  mengikuti  cara  seperti  itu  dalam penelitiannya. Untuk itulah diperlukan proposal sebagai bentuk perencanaan penelitian. Keseluruhan isi yang dimuat dalam proposal penelitian pada dasarnya adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

Why   : Mengapa penelitian tersebut dilaksanakan?

What : Apa yang akan diteliti?

How  : Bagaimana penelitian dilaksanakan?

Where : Dimana penelitian dilaksanakan?

When   : Kapan penelitian dilaksanakan?

Who     : Siapa yang terlibat dalam kegiatan penelitian?

Sebelum mengungkap secara detail bagian-bagian (isi) sutau proposal perlu dikemukakan garis-garis besar proposal. Walaupun banyak unsur dari proposal yang mirip untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif, tetapi terdapat sejumlah  variasi  dalam  aspek  metodologis  dari  kedua  jenis  penelitian tersebut. Oleh karena itu, dalam pembahasan berikut ini kedua jenis proposal tersebut disajikan secara terpisah.

PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF

A.  Garis Besar  Proposal

Garis-garis besar proposal penelitian kuantitatif menurut McMillan dan Schumacher (2001) adalah sebagai berikut:

1. Pendahuluan

a.  Pernyataan masalah secara umum.

Masalah yang masih bersifat umum dirumuskan secara jelas dan tepat.
Rumusan  demikian  akan  membantu  pembaca  memahami  pentingnya
masalah dan kedudukan fokus masalah dalam bidang keahlian peneliti
(pendidikan).  Rumusan  masalah  umum  tersebut  ditunjang  oleh  studi
kepustakaan yang sesuai, dijabarkan dalam pertanyaan dan/atau hipotesis
khusus, serta manfaat penelitian. Rumusan permasalahan umum tersebut
disimpan pada awal alinea, diikuti oleh latar belakang pemilihan masalah.
Rumusannya hendaknya cukup padat tetapi mudah ditangkap/dipahami
oleh orang yang tidak ahli dalam bidang masalah tersebut.

b. Reviu kepustakaan

Mengemukakan apa yang telah diketahui tentang permasalahan dan kajian  teori  dan  penelitian  terdahulu,  membantu  memperjelas  latar belakang dan pentingnya penelitian. Reviu kepustakaan juga menjelaskan tentang pentingnya masalah yang akan diteliti, pendirian peneliti, kritik terhadap desain penelitian terdahulu, identifikasi kesenjangan-kesenjangan dan hal-hal baru yang akan dikembangkan.

c.  Hipotesis atau pertanyaan penelitian khusus

Sebagai  jabaran  dari  permasalahan  umum  dirumuskan  hipotesis dan/atau pertanyaan khusus, diikuti rumusan definisi operasional atau penjelasan tentang variabel yang diteliti. Rumusan pertanyaan khusus atau hipotesis  hendaknya  mampu  menggambarkan  dengan  jelas  bahwa penelitian bersifat empiris dengan desain penelitiannya yang spesifik.

d. Manfaat penelitian

Menjelaskan pentingnya penelitian dalam pengembangan pengetahuan, implikasinya bagi penelitian lebih lanjut, manfaatnya praktis untuk pengembangan pendidikan. Manfaat hasil penelitian bagi pengembangan  pengetahuan (manfaat  teoretis)  dapat  berupa  penemuan pengetahuan atau prinsip-prinsip baru. Implikasi hasil penelitian bagi penyempurnaan pelaksanaan pendidikan dapat berupa bentuk rumusan atau pernyataan-pernyataan yang bersifat umum bukan saran-saran khusus.

2. Desain dan Metodologi

Menjelaskan jenis desain dan metode yang akan digunakan, apakah menggunakan  penelitian  deskriptif,  survai,  korelasional,  eksperimental, pengembangan, dan jenis-jenis penelitian kuantitatif lainya.

a.  Subyek

Dijelaskan siapa/apa target populasi, bagaimana pengambilan sampel dan populasi tersebut, besarnya sampel, prosedur penarikan sampel. Dalam bagian ini dijelaskan juga bagaimana menjaga nama baik subjek yang diteliti, izin untuk meneliti serta memelihara kerahasiaan data dan individuindividu yang menjadi sumber data.

b. Penyusunan instrumen

Dijelaskan  jenis  instrumen  yang  digunakan,  alasan  penggunaan instrumen tersebut. Jika instrumen sudah ada dikemukakan validitas dan reliabilitas  instrumen  tersebut.  Bila  instrumen  akan  dikembangkan dikemukakan  proses  pengembangan  dan  pengujian  validitas  dan reliabilitasnya.

c.  Prosedur

Dijelaskan  bagaimana  penelitian  akan  dilaksanakan,  bagaimana hubungan antar variabel dapat dicari. Dalam penelitian deskriptif atau survai, prosedur ini mencakup penyiapan angket, pembuatan pedoman dan jadwal wawancara, latihan dan pemberian petunjuk bagi pengumpul data.
Dalam penelitian eksperimen prosedurnya lebih kompleks, meliputi: identi-
fikasi  dan  pemilihan  kelompok  eksperimen  dan  kelompok  kontrol,
spesifikasi  perlakuan,  prosedur  untuk  mengurangi  variabel-variabel
penyela, dan lain.

d. Analisis dan penyajian data

Dijelaskan teknik analisis data yang digunakan dan bagaimana proses
analisisnya  serta  bagaimana  data  hasil  analisis  disajikan.  Bagaimana
pengujian setiap hipotesis dilakukan serta alasan penggunaannya. Alasan
diarahkan pada kesesuaian dengan tujuan studi, ukuran sampel, serta
pengujian instrumen yang digunakan. Pada bagian ini iuga dijelaskan
bentuk penyajian data yang akan dibuat seperti: tabel, grafik, profil, bagan
dan lain-lain.

e.  Keterbatasan desain

Dijelaskan keterbatasan desain dalam kaitanya dengan lingkup studi, desain, dan metodologi. Lingkup studi terbatas pada apa yang dirumuskan dalam permasalahan umum atau fokus penelitian, tidak bisa meneliti semua hal yang terkait dengan permasalah tersebut. Desain juga dibatasi oleh metodologi yang digunakan, kalau metodenya korelasional maka penelitian diarahkan  untuk  mengidentifikasi  hubungan  melalui  analisis  korelasi, demikian juga dengan komparasi terbatas pada membandingkan hal-hal yang sudah dirancang melalui analsis komparatif.

3. Rujukan

Berupa daftar sumber-sumber apa yang dijadikan rujukan. Sumber tersebut dapat berbentuk buku, jurnal, hasil penelitian serta sumber-sumber dalam  situs  internet.  Rujukan digunakan  dalam  identifikasi,  perumusan masalah, perumusan definisi, penyusunan desain, pengembangan instrumen, analisis data, pembahasan bahkan sampai penarikan kesimpulan.

4. Lampiran

Berisi hal-hal yang sifatnya melengkapi atau mendukung proposal penelitian, seperti: jadwal penelitian, rencana anggaran, dan   riwayat hidup para peneliti,

B. Penjelasan Unsur-unsur Proposal Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai
obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan secara
jelas. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan.

Penelitian kuantitatif lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan
penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya.
Setiap  kegiatan  penelitian  kuantitatif  selalu  dilakukan  dengan  melalui
tahapan-tahapan berlandaskan metode ilmiah. Adapun tahapan-tahapannya
adalah sebagai berikut:

1.   Merumuskan masalah. Tanpa ada masalah tidak terjadi penelitian, sebab
penelitian  dilakukan  untuk  memecahkan  masalah.  Masalah  pada
umumnya diajukan dalam bentuk pertanyaan sekalipun tidak selamanya
sebab bisa juga dalam bentuk pernyataan. Permasalahan bisa diajukan
dalam bentuk deskriptif, asosiatif dan komparatif bahkan untuk satu
penelitian bisa diajukan ketiga-tiganya bergantung kepada tujuan yang
akan dicapainya.

2.   Mengkaji teori keilmuan berkaitan dengan bidang ilmu yang dijadikan
dasar perumusan masalah. Peneliti menelusuri konsep-konsep, prinsip,
generalisasi dan berbagai literatur, jurnal dan sumber lain berkaitan
dengan variabel dan masalah yang diteliti. Kajian teori tersebut sebagai
dasar dalam merumuskan kerangka berpikir dalam melihat hubungan
antar variabel untuk Selanjutnya mengajukan alternatif kemungkinan
jawaban atas masalah atau sering disebut hipotesis.

3.   Mengajukan hipotesis atau jawaban sementara atas pertanyaan penelitian
sebagai acuan dalam mengumpulkan data empiris atau verifikasi data di
lapangan. Artinya jenis data yang diperlukan diarahkan oleh makna yang
tersirat dan tersurat dalam rumusan hipotesis. Dengan kata lain data
empiris yang diperlukan adalah data yang dapat digunakan untuk menguji
hipotesis.

4.   Melakukan verifikasi data empirik yakni data lapangan yang diperlukan
untuk menguji hipotesis. Dalam hal ini peneliti harus menentukan jenis
data yang diperlukan apakah data kualitatif atau data kuantitatif. Jika data
kuantitatif apakah data nominal, ordinal, interval atau data rasio. Dari
mana data itu diperoleh dalam hal ini berkaitan dengan, populasi dan
sampel serta responden penelitian. Cara atau teknik memperoleh data
serta alat atau instrumen yang digunakan untuk menjaring data. Data yang terkumpul terus diolah dan dianalisis dengan cara-cara tertentu yang  memenuhi kesahihan dan keterandalan sebagai bahan untuk  menguji  hipotesis.

5.  Menarik kesimpulan dalam arti membuat generalisasi atas dasar hasil uji
hipotesis. Hasil uji hipotesis sifatnya adalah temuan penelitian atau hasil
penelitian.  Temuan  penelitian  ini  dibahas  dan  disintesiskan  untuk
kemudian  disimpulkan.  Kesimpulan  inilah  pada  hakekatnya  adalah
jawaban atas masalah penelitian yang disusun dalam bentuk proposisi
atau pernyataan ilmiah.

Karena permasalahan yang diteliti sudah jelas dan prosedur penelitian sudah baku, maka proposal penelitian kuantitatif dipandang sebagai “blue print” yang harus digunakan sebagai pedoman baku dalam melaksanakan penelitian. Sebagai acuan, proposal penelitian kuantitatif dapat dikemas dalam sistematika penulisan sebagai berikut.

I      PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Identifikasi Masalah

C. Pembatasan Masalah

D. Perumusan Masalah

E. Tujuan Penelitian

F. Kegunaan/Manfaat Penelitian

II  DESKRIPSI TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS
PENELITIAN

A. Deskripsi Teoretik

B. Kerangka Berpikir

C. Hipotesis Penelitian

III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

B. Tempat dan Waktu Penelitian

C. Populasi dan Sampel

D. Instrumen Penelitian

E. Teknik Analisis Data

JADWAL KEGIATAN PENELITIAN
ANGARAN BIAYA PENELITIAN

Uraian berikut, menjelaskan tentang susbtansi yang harus disajikan dalam proposal penelitian kuantitatif.

I.  PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masalah  merupakan  kesenjangan  antara  situasi  yang  diharapkan
dengan situasi yang ada. Dapat juga dikatakan sebagai kesenjangan antara
tujuan yang ingin dicapai dengan keterbatasan alat dan sumber daya yang
dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut. Masalah juga dapat dikatakan se-
bagai  kesenjangan  antara  teori  dan  praktik.  Masalah  penelitian  dilatar
belakangi oleh adanya situasi yang memerlukan pemecahan sehingga perlu
dilakukan suatu penelitian. Masalah yang masih umum dapat berkembang
menjadi masalah penelitian kuantitatif apabila memenuhi beberapa kriteria
sebagai berikut:

1.  Suatu masalah penelitian harus menggambarkan hubungan antara dua
variabel atau lebih.

2.  Walaupun tidak merupakan suatu keharusan bahwa suatu masalah harus
dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, akan tetapi banyak ahli penelitian
menyarankan bahwa masalah penelitian hendaknya dinyatakan dalam
bentuk pertanyaan. Masalah penelitian yang dinyatakan dalam bentuk
pertanyaan lebih mengarahkan pada jawaban yang diharapkan. Dengan
menyajikan masalah dalam bentuk pertanyaan, jawaban akan lebih jelas
dan langsung pada sasarannya.

3.  Suatu  masalah  penelitian  memerlukan  pengujian  secara  empirik.
Pengujian empirik berarti bahwa pemecahannya dilandasi oleh bukti-bukti
empirik dengan cara mengumpulkan data yang relevan.

Latar belakang masalah adalah alasan mendasar yang menunjukkan
bahwa tema/ topik/ judul penelitian tersebut penting dan menarik untuk
dilaksanakan. Pada bagian ini berisi tentang peristiwa-peristiwa yang sedang
terjadi pada suatu bidang kajian penelitian. Tetapi dalam peristiwa itu,  sekarang ini tampak ada penyimpangan-penyimpangan dan standar yang ada, baik standar yang bersifat keilmuan maupun aturan-aturan. Oleh karena itu dalam latar belakang ini, peneliti harus melakukan analisis masalah, sehingga permasalahan menjadi jelas. Melalui analisis masalah, peneliti harus dapat menunjukkan adanya suatu penyimpangan yang ditunjukkan dengan data dan menuliskan mengapa hal ini perlu diteliti.

Latar belakang maslah penelitian tidak muncul begitu saja atas dasar inspirasi. Untuk mendapatkanya peneliti dapat mencari darai berbagai sumber rukukan antara lain ialah:

1.   Hasil  kajian  pustaka.  Pustaka-pustaka  yang  berupa buku,  dokumen-
dokumen ilmiah, jurnal, terbitan berkala, indeks, laporan hasil penelitian,
abstrak tesis dan disertasi, dan internet, merupakan sumber-sumber yang
sangat penting dalam memperoleh masalah penelitian. Biasanya siapa yang  lebih  banyak  menguasai  bahan  pustaka,  akan  lebih  mudah mendapatkan masalah penelitian.

2.   Hasil diskusi dengan sejawat atau kolegial yang se-profesi. Dari diskusi-
diskusi baik yang sifatnya formal maupun informal, akan dapat membantu
peneliti dalam menemukan masalah penelitian. Sering dijumpai, bahwa
walaupun seseorang telah melakukan banyak kajian pustaka, tetapi masih
saja sulit untuk mengangkat suatu masalah penelitian yang layak. Melalui
diskusi dengan sejawat akan membantu mempermudah menemukan dan
merumuskan masalah penelitian. Diskusi memiliki beragam bentuk, yang
semuanya  dapat  dimafaatkan  untuk  menemukan  masalah  penelitian,
seperti seminar, simposium, diskusi panel, konferensi, lokakarya, dan
yang sejenis lainnya.

3.   Masalah penelitian juga dapat diperoleh dari lapangan, misalnya sekolah,
universitas, organisasi, masyarakat, maupun lembaga lain di mana peneliti
berada dan bergaul dengan sesama dalam kehidupan sehari-harinya.
4. Pengalaman-pengalaman  pribadi  juga  sering  merupakan  sumber
munculnya  masalah  penelitian.  Bahkan  tidak  jarang  suatu  masalah
penelitian yang muncul berkat renungan pribadi.

5.   Surat kabar harian, majalah-majalah, dan media elektronik juga tidak
jarang dapat membantu peneliti dalam mengangkat masalah penelitian.
Dengan membaca berita-berita media-media tersebut, sering seorang peneliti dapat menjumpai berita-berita yang menarik untuk diangkat menjadi masalah penelitian.

6.  Masalah penelitian juga sering muncul sebagai akibat kemajuan dan
perubahan  teknologi-informasi.  Tidak  jarang  suatu  teknologi  dan
informasi baru mengandung efek samping yang patut dan layak untuk
diteliti.  Masalah  penelitian  dapat  berasal  dari  dampak  negatif  dari
kemajuan teknologi-informasi tersebut.

Tasa  dasar  sumber  sumber  di  atas,  substansi  serta  struktur pembahasan dalam latar belakang masalah dapat disajikan dalam tata urutan sebagai berikut:

1.  Mengungkap tinjauan makro atau dasar pemikiran tentang tema/ topik/
judul penelitian dimana area permasalahan berada.

2.  Mengungkap alasan rasional dan empirik tentang pentingnya tema/ topik/
judul penelitian.

3.  Mengungkap  adanya  kesenjangan  antara  harapan  das  sollen  dan
kenyataan das sein untuk mengemukakan variabel. Dengan kata lain,
mengungkap fakta-fakta empiris di lapangan yang menunjukkan adanya
suatu masalah yang harus dipecahkan. Sumber informasi dapat diambil
dari  data  statistik,  hasil  penelitian  sebelumnya,  pengamatan,  atau
pengalaman peneliti.

4.  Mengemukakan  faktor-faktor  yang  diduga  dapat  menjadi  penyebab
munculnya suatu masalah atau rendahnya variabel dengan menggunakan
pendekatan logis berdasarkan fakta atau dengan menggunakan pendekatan
teoretis berdasarkan teori dan hasil penelitian relevan.

B.  Identifikasi  Masalah

Identifikasi  masalah  adalah  sejumlah  aspek  permasalahan  yang muncul sehubungan dengan tema/topik/judul penelitian. Dalam bagian ini perlu dituliskan berbagai masalah yang ada pada obyek yang diteliti. Semua  masalah dalam obyek, baik yang akan diteliti maupun yang tidak akan diteliti
sedapat  mungkin  dikemukakan.  Untuk  dapat  mengidentifikasi  masalah
dengan baik, maka peneliti perlu melakukan studi pendahuluan ke obyek
yang diteliti, melakukan observasi, dan wawancara ke berbagai sumber,
sehingga semua permasalahan dapat diidentifikasikan. Berdasarkan berbagai

permasalahan  yang  telah  diketahui  tersebut,  selanjutnya  dikemukakan
hubungan satu masalah dengan masalah yang lain. Masalah yang akan diteliti
itu kedudukannya di mana di antara masalah yang telah diidentifikasi.
Masalah apa saja yang diduga berpengaruh positif dan negatif terhadap
masalah yang diteliti. Selanjutnya masalah tersebut dapat dinyatakan dalam
bentuk variabel.

C. Pembatasan Masalah

Karena adanya keterbatasan, waktu, dana, tenaga, teori-teori, dan
supaya penelitian dapat dilakukan secara lebih mendalam, maka tidak semua
masalah yang telah diidentifikasikan akan diteliti. Untuk itu maka peneliti
memberi batasan, dimana akan dilakukan penelitian, variabel apa saja yang
akan diteliti, serta bagaimana hubungan variabel satu dengan variabel yang
lain. Berdasarkan batasan masalah ini, maka selanjutnya dapat dirumuskan
masalah penelitian.

Dalam  usaha  mengidentifikasikan  atau  menemukan  masalah penelitian, sering ditemukan lebih dari satu masalah sehingga diperlukan pembatasan masalah. Pembatasan masalah berarti penetapan atau memilih satu atau lebih masalah dari sejumlah masalah yang sudah teridentifikasi disertai argumentasinya. Pertimbangan untuk menentukan layak atau tidak  suatu masalah diteliti, didasarkan pada pertimbangan dua arah yaitu dari arah
yaitu: (1)  Dari  arah  masalah  yang  merupakan  pertimbangan  obyektif.
Pertimbangan dibuat atas dasar sejauh mana penelitian terhadap masalah ini
akan memberikan sumbangan kepada pengembangan teori dalam bidang
yang bersangkutan dan pemecahan masalah-masalah praktis; (2) Dari arah
peneliti yang merupakan pertimbangan subjektif. Dalam arti masalah yang
akan ditelitinya menarik keingintahuan peneliti dan sesuai dengan kualifikasi
yang dimiliki oleh peneliti.

Untuk  mendapatkan  rumusan  masalah  penelitian  yang  baik, pembatasan masalah perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1.  Masalah  perlu  dipecahkan  melalui  penelitian  lapangan (field research). Hal itu berarti bahwa masalah penelitian yang baik, adalah masalah yang cara pemecahan yang paling efektif dilakukan melalui proses penelitian. Sehubungan dengan hal itu maka peneliti harus memiliki kesiapan dan kemampuan untuk melaksanakan penelitian, dimana tujuan utamanya ialah untuk melakukan pengujian teori ataupun untuk menemukan jawaban terhadap masalah penelitian.

2. Kebermaknaan atau keberartian (signifikansi) pemecahan masalah.

Suatu masalah penelitian yang baik harus memiliki signifikansi, baik
untuk kepentingan praktis maupun teoretis. Signifikansi praktis berarti
bahwa hasil pemecahan masalah penelitian memberikan sumbangan
terhadap praktik kehidupan sehari-hari. Sedang signifikansi teoretis
berarti bahwa dari hasil pemecahan masalah tersebut akan mampu
melahirkan prinsip-prinsip penting yang berguna untuk memperkaya,
memperluas wawasan, dan mengembangkan teori yang telah ada.

Pendeknya, dalam memilih masalah penelitian, harus dipertimbangkan  nilai-nilai  penting  yang  terkandung  di  dalam masalah penelitian.

3.   Keaslian   (originalitas). Suatu masalah penelitian yang baik harus
menunjukkan bahwa masalah tersebut merupakan sesuatu yang baru, bukan duplikasi atau replikasi dari apa yang pernah dikemukakan orang lain. Hal ini menjadi sangat penting teruatama pada penelitian-penelitian inferensial, dan penelitian untuk menghasilkan tesis dan disertasi.

4.   Kelayakan untuk dilaksanakan. Beberapa pertanyaan yang muncul
sehubungan   dengan   pertimbangan   tentang   dapat   tidaknya dilaksanakan tersebut antara lain ialah:

a.  Pertimbangan  mengenai  kompetensi  peneliti.  Dalam  hal  ini pertanyaan yang sering diajukan ialah seberapa jauh kemampuan peneliti   dalam   menyusun   perencanaan   penelitian.   Soal perencanaan ini penting, karena suatu rencana yang baik akan berfungsi sebagai pengarah jalannya proses penelitian. Seberapa jauh  kemampuan  peneliti  menguasai  metodologi  penelitian.
Seberapa   jauh   kemampuan   peneliti   memaknai   atau menginterpretasi data dan hasil penemuannya. Juga tidak kalah pentingnya ialah kemampuan peneliti dalam  mengembangkan penemuannya dalam suatu konsep yang tersusun secara logis dan sistematis.

b.  Apakah untuk memecahkan masalah penelitian tersebut cukup tersedia data yang diperlukan. Apakah dalam proses pengumpulan data tersebut sekiranya akan mendapatkan kemudahan-kemudahan dari pihak yang berwenang, misalnya dalam hal perijinan penelitian.

c.  Apakah telah tersedia waktu, biaya, serta tenaga peneliti yang diperlukan.

5.   Keberanian peneliti dalam mengangkat masalah-masalah penelitian
yang  oleh  pihak-pihak  tertentu  dianggap  sensitif  atau  rawan.
Seringkali dijumpai bahwa dalam mengajukan masalah penelitian, peneliti dihinggapi rasa takut untuk mengangkat atau mengajukan masalah-masalah yang sensitif atau rawan, padahal masalah tersebut berdasarkan pertimbangan ilmiah merupakan masalah yang penting dan urgen untuk diangkat.

6.   Tentang  minat  peneliti.  Suatu  masalah  penelitian  yang  akan
dipecahkan harus menarik bukan saja bagi peneliti yang bersangkutan,
akan tetapi juga harus cukup menarik bagi orang lain sesuai dengan bidangnya.

Dalam  membatasi  masalah,  masalah  harus  diseleksi  berdasarkan informasi,  pengalaman-pengalaman,  maupun  teori-teori  yang  relevan. Apabila masalah penelitian tidak mempertimbangkan mengenai hal itu, maka masalah penelitian akan kehilangan landasan berpijak.

D. Perumusan Masalah

Setelah masalah yang akan diteliti itu ditentukan (variabel apa saja yang akan diteliti, dan bagaimana hubungan variabel satu dengan yang lain), dan supaya masalah dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu dirumuskan secara spesifik. Perumusan masalah merupakan pemetaan faktor-faktor dan variabel-variabel yang terkait. Kualitas suatu penelitian  tidak  cukup  dipertimbangkan  berdasarkan  kriteria-kriteria sebagaimana diuraikan sebelumnya. Kualitas suatu penelitian juga ditentukan oleh  bagaimana  masalah  penelitian  tersebut  dirumuskan.  Untuk dapat  menyajikan perumusan masalah penelitian yang baik, perlu diikuti beberapa persyaratan sebagai berikut:

1.   Masalah penelitian harus dirumuskan secara spesifik. Dengan perumusan
yang spesifik, akan dapat menunjukkan tentang gambaran yang lebih
menfokus mengenai arah pemecahannya. Namun demikian, walaupun
harus dirumuskan secara spesifik, peneliti pada waktu mengidentifikasi
masalah  penelitiannya,  terlebih  dahulu  harus  memberikan  gambaran
umum dan menyeluruh tentang masalah-masalah yang bersifat umum,
agar peneliti tetap memiliki wawasan yang lebih komprehensif dan
makro. Baru sesudah gambaran komprehensif dan makronya dibeberkan,
pembatasan masalah penelitian yang sifatnya lebih spesifik dikemukakan.
Hal  itu  disarankan,  oleh  karena  masalah-masalah  penelitian  yang
dirumuskan terlalu spesifik dan sempit, dikhawatirkan  peneliti akan
kehilangan dari konteks wawasan yang bersifat makro.

2.   Masalah penelitian yang telah dirumuskan secara spesifik, harus diikuti
dengan  perumusan  secara  operasional.  Dengan  perumusan  yang operasional terkandung maksud bahwa masalahnya menjadi mudah untuk diamati dan diukur indikator-indikatornya.

3.   Masalah penelitian harus dirumuskan dalam bentuk pernyataan deklaratif
atau dalam bentuk kalimat pertanyaan. Banyak ahli menyarankan agar
supaya masalah penelitian dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan,
karena dengan bentuk pertanyaan, akan lebih memfokuskan pada jawaban
atau pemecahan masalah yang akan diperoleh.

4.   Masalah penelitian harus dirumuskan dengan kalimat yang sederhana,
pendek,  dan  padat  dan  mencerminkan  inti  masalah  yang  diajukan.
Pertimbangan ini diajukan agar masalah penelitian yang dapat difahami
dengan  mudah  oleh  pihak-puhak  lain  yang  berkepentingan  dengan
penelitian  yang  akan  dilakukan,  tanpa  adanya  kemungkinan  untuk
diinterpretasi secara beragam dan membingungkan.

5.   Masalah penelitian harus memiliki landasan rasional (dapat dinalar) dan
diargumentasikan secara jelas, sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak
lain untuk menerimanya.

Rumusan  masalah  yang  telah  ditetapkan,  pada  tahap  selanjutnya  akan dijadikan dasar dalam menentukan tujuan yang akan mengarahkan pemilihan metode serta prosedur penelitian.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dan kegunaan penelitian sebenamya dapat diletakkan di luar
pola pikir dalam merumuskan masalah. Tetapi keduanya ada kaitannya
dengan permasalahan, oleh karena itu dua hal ini ditempatkan pada bagian
ini.  Tujuan  penelitian  adalah  pernyataan  yang  menjelaskan  keinginan
mendapat  jawaban  atas  pertanyaan  yang  konsisten  dengan  perumusan
masalah. Pada dasarnya tujuan penelitian adalah memberikan penjelasaan
tentang sesuatu yang akan diperoleh jika penelitian tersebut selesai.

Tujuan penelitian berkenaan dengan tujuan peneliti dalam melakukan
penelitian. Tujuan penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah yang
dituliskan. Misalnya rumusan masalahnya: Bagaimanakah tingkat kompetensi
profesional guru di sekolah XXX? Maka tujuan penelitiannya adalah: ingin
mengetahui seberapa tinggi tingkat kompetensi profesional guru di sekolah
XXX. Kalau rumusan masalahnya: Apakah ada pengaruh Diklat terhadap
kinerja  pengawas  sekolah,  maka  tujuan  penelitiannya  adalah:  Ingin
mengetahui pengaruh Diklat terhadap kinerja pengawas sekolah. Rumusan
masalah dan tujuan penelitian ini jawabannya terletak pada kesimpulan
penelitian.

F. Kegunaan/ Manfaat Penelitian

Kegunaan atau manfaat penelitian adalah pernyataan tentang tujuan umum penelitian yang konsisten dengan latar belakang masalah. Pernyataan
tentang manfaat harus mengandung dua hal yaitu manfaat secara teoretis dan
manfaat  secara  praktis  bagi  pihak-pihak  yang  terkait  dengan  upaya
pemecahan masalah penelitian. Kegunaan hasil penelitian merupakandampak
dan tercapainya tujuan. Kalau tujuan penelitian dapat dicapai dan rumusan
masalah terjawab maka sekarang kegunaannya apa. Kegunaan hasil penelitian
ada dua hal yaitu: (1) Kegunaan untuk mengembangkan ilmu/kegunaan teoretis;    (2)  Kegunaan  praktis,  yaitu  membantu  memecahkan  dan mengantisipasi masalah yang ada pada obyek yang diteliti. Kegunaan dan manfaat penelitian harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Pernyataan tentang  manfaat  pada  tahap  selanjutnya  akan  dijadikan  dasar  dalam mengemukakan implikasi teoretis, implikasi praktis, dan saran-saran. (sumber : dirjen pmptk)